Merantaulah

Orang pandai dan beradab tak kan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah, kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak dia kan keruh menggenang

Singa tak kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak kan kena sasaran
Jika saja matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman
Orang-orang tak kan menunggu saat munculnya datang

Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan
Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan
Jika dibawa ke kota berubah mahal jadi incaran hartawan

(Al-imam asy-Syafi'i)

Sabtu, 27 Agustus 2011

Bagaimana memahami bid'ah?

Secara tidak sengaja saya dikasih buku oleh salah seorang kawan di Canberra dengan judul "Doa dan Wirid Mengobati Guna-guna dan Sihir Menurut al-Qur'an dan Al-Sunnah" penulis Yazid ABdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Syafii, Bogor. Dari isi buku itu kita tahu kelompok mana yang menulisnya.

Ada satu bagian dari buku ini yang mencoba menerangkan tentang masalah bid'ah di salah satu bab tentang bagaimana mengatasi guna-guna. Masalah bid’ah mungkin sudah lama disuarakan oleh kalangan Islam di Indonesia di awal berdirinya. Salah satu yang masuk kategori bidah di sini menurut penulis buku ini adalah masalah wirid berjamaah dipimpin oleh Imam, menghitung dzikir dengan tasbih yang menurut penulis buku ini banyak didasarkan hadis maudhu', berzikir dengan suara keras, membiasakan atau merutinkan berdoa setelah shalat fardhu serta mengankat tangan pada saat berdoa tersebut.

Memang ini masalah lama dan furuiyyah yang tidak akan ketemu kalau kita perdebatkan dengan mereka yang bersebarangan. Ini akan menguras energi kita untuk melakukan hal lain yang lebih penting. Tapi untuk menambah khasanah pengetahuan tentang masalah ini, tidak ada salahnya jika kita menyimak tulisan Ketua Syuriah kita tentang bagaimana kita mensikapi masalah bid'ah.

*Sekedar informasi, buku-buku seperti ini sangat luas beredar di Indonesia dan mudah di cari di TB Gramedia sekalipun dengan kemasan cover yang mewah untuk ukuran buku kecil. Sebaliknya, k ita jarang menemukan buku dengan tema lain yang sesuai dengan praktek-praktek ibadah yang kita lakukan.

http://media.isnet.org/isnet/Nadirsyah/bidah.html

Bagaimana memahami bid'ah?
Nadirsyah Hosen

Selepas sholat maghrib, seperti biasanya Haji Yunus melakukan dialog dengan para jama'ah. Malam itu kebetulan terang bulan, dan udara pun tidak terlalu dingin. Suasana nyaman itu mendadak menjadi panas akibat pertanyaan seorang jama'ah.

"Pak Haji, ijinkan saya bertanya soal bid'ah." demikian pertanyaan Ace, nama anak muda itu. Jama'ah tersentak kaget. Sudah beberapa tahun ini masalah sensitif tersebut tidak disinggung dalam Masjid Jami' di desa tersebut. Haji Yunus memang ingin menjaga keutuhan dan kekompakan ummat Islam di desa itu.

"Silahkan," jawab Haji Yunus dengan senyum khasnya. "Ada baiknya setelah sekian lama kita menahan diri dan bersikap toleran terhadap sesama, ada baiknya kalau sekarang kita dialogkan dengan toleran dan terbuka pula masalah ini. Biar kita terus dapat memelihara suasana persaudaraan di kampung ini."

Ace kemudian mulai bertanya, "saya sering membaca buku agama yang mewanti-wanti soal bid'ah. Baca Qunut bid'ah, Mauludan itu bid'ah, tahlilan itu bid'ah bahkan berzikir dg tasbih juga bid'ah. Padahal konon setiap bid'ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka! Mohon pencerahan pak Haji!"

"Anakku," sapa pak Haji dengan penuh kasih sayang. "Sekitar lima belas abad yang lampau, Rasulullah saw bersabda, 'Sebaik-baiknya perkataan/berita adalah Kitabullah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk dari Muhammad. Sementara itu, sejelek-jelek urusan adalah membuat-buat hal yang baru (muhdastatuha) dan setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka." [Lihat misalnya Shahih Muslim, Hadis Nomor [HN] 1.435; Sunan al-Nasa'i, HN 1560; Sunan Ibn Majah, HN 44 dengan sedikit perbedaan redaksi]

"Berarti benar dong...bid'ah itu sesat!" cetus Mursalin, jama'ah yang semula hanya duduk di pojokan Masjid, kini mulai maju ke depan mendekati sang Ustadz.

"Benar! Namun masalahnya apakah yang disebut bid'ah itu? apakah semua urusan yang belum ada pada jaman Nabi disebut bid'ah? Saya ke kantor pakai Honda, tetangga saya pakai Toyota, lalu Nabi pakai Onta. Apa ini juga bid'ah?" balas Burhanuddin, pegawai jawatan kereta api. Ada nada emosi di suaranya.

"Sabar...sabar..."Haji Yunus berusaha menenangkan jama'ah yang mulai merasakan 'hot'nya suasana. "Kita harus lihat dulu konteks hadis tersebut. Nabi sebenarnya saat itu sedang membuat perbandingan antara hal yang baik dengan hal yang buruk. Hal yang baik adalah berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi. Sedangkan hal yang buruk adalah melakukan sebuah perbuatan yang tidak ada dasarnya dalam kedua sumber itu."

"Tetapi...pak Ustadz..." Burhanuddin mencoba memotong keterangan ustadz.

"Nah, anda sudah berbuat bid'ah saat ini. Tidak sekalipun Nabi memotong perbincangan sahabatnya atau perkataan orang kafir. Ini adalah contoh paling jelas dan nyata dari perbuatan bid'ah. Dengarkanlah dulu penjelasan saya sampai selesai. Setelah tiba giliran anda silahkan berkomentar." tegur sang ustadz dengan lembut.

"Maaf..ustadz....silahkan diteruskan..." Burhanuddin menyadari kekhilafannya. Kadangkala merasa diri benar telah menimbulkan hawa nafsu dan setan berhasil membangkitkan nafsu tersebut.

"Saya ulangi, perbuatan bid'ah adalah perbuatan yang tidak ada dasarnya dalam kedua sumber utama kita tersebut. Namun ini baru setengah cerita. Bukankah seperti disebut ananda Burhanuddin tadi terdapat banyak urusan kita sehari-hari yang berbeda dengan yang dialami Nabi akibat perbedaan ruang dan waktu serta berkembangnya tekhnologi. Apakah ini juga tergolong bid'ah? Tidakkah menjadi mundur rasanya kalau kita harus memutar jarum sejarah lima belas abad ke belakang untuk mengikuti semua hal yang ada di jaman Nabi termasuk soal keduniawian? Tidak realistis rasanya kalau kita harus naik onta di desa ini hanya karena tidak ingin jatuh pada perbuatan bid'ah. Untuk itu perlu dipahami konteks bid'ah tersebut."

Jama'ah makin mendekat berdesak-desakan menunggu keterangan Haji Yunus selanjutnya.

"Jama'ah sekalian....Syarh Sunan al-Nasa'i li al-Suyuti memberikan keterangan apa yang dimakud dengan "muhdastatuha" dalam hadis yang saya bacakan di atas. Disebut muhdastatuha kalau kita membuat-buat urusan dalam masalah Syari'at atau dasar-dasar agama (ushul). Dalam Syarh Shaih Muslim, Imam Nawawi menjelaskan lebih lanjut bahwa para ulama mengatakan bid'ah itu ada lima macam: wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah."

"Yang wajib adalah mengatur argumentasi berhadapan dengan para pelaku bid'ah. Yang mandub (sunnah) adalah menulis buku-buku agama mengenai hal ini dan membangun sekolah-sekolah. Ini tidak ada dasarnya dalam agama namun diwajibkan atau disunnahkan melakukannya. Yang dianggap mubah adalah beraneka ragam makanan sedangkan makruh dan haram sudah nyata dan jelas contohnya. Jadi kata bid'ah dalam hadis di atas dipahami oleh Suyuti dan Nawawi sebagai kata umum yang maksudnya khusus. Kekhususannya terletak pada persoalan pokok-pokok syari'at (ushul) bukan masalah cabang (furu').

"Jika kita menganggap hadis itu tidak berlaku khusus maka semua yang baru (termasuk tekhnis pelaksanaan ibadah) juga akan jatuh pada bid'ah. Kedua kitab Syarh tersebut juga mengutip ucapan Umar bin Khattab soal sholat tarawih di masanya sebagai 'bid'ah yang baik' (ttg ucapan Umar ini lihat Shahih Bukhari, HN 1871). Dengan demikian Umar tidak menganggap perbuatan dia melanggar hadis tersebut, karena sesungguhnya yang di-"modifikasi" oleh Umar bukan ketentuan atau pokok utama sholatnya, melainkan tekhnisnya. Mohon dicatat, penjelasan mengenai hadis ini bukan dari saya tetapi dari dua kitab syarh hadis dan keduanya saling menguatkan satu sama lain"

"Kita juga harus berhati-hati dalam menerima sejumlah hadis masalah bid'ah ini. Sebagai contoh, hadis mengenai bid'ah yang tercantum dalam Sunan al-Tirmizi, HN 2701 salah satu rawinya bernama Kasirin bin Abdullah. Imam Syafi'i menganggap dia sebagai pendusta, Imam Ahmad menganggap ia munkar, dan Yahya menganggapnya lemah. Hadis masalah bid'ah dalam Sunan Ibn Majah, HN 48 diriwayatkan oleh Muhammad bin Mihshanin. Tentang dia, Yahya bin Ma'yan mengatakan dia pendusta, Bukhari mengatakan dia munkar, dan Abu Hatim al-Razi mengatakan dia majhul. Ibn Majah meriwayatkan hadis dalam masalah ini [HN 49], diriwayatkan oleh dua perawi bermasalah. Abu Zar'ah al-Razi mengatakan bahwa Bisyru bin Mansur tidak dikenal, Zahabi mengatakan Abi Zaid itu majhul. Kedua hadis Ibn Majah ini tidak dapat tertolong karena hanya diriwayatkan oleh Ibn Majah sendiri, yaitu "Allah menolak amalan pelaku bid'ah, baik sholatnya, puasanya...dst. Namun saya tidak bilang semua hadis ttg bid'ah itu lemah lho...."

"Pak Haji, bisa tolong membuat batasan masalah pokok agama itu apa saja dan masalah cabang atau furu' itu yang bagaimana" tanya Ace yang sebelumnya sibuk mencatat nomor hadis dan kitab hadis yg disebutkan Haji Yunus.

"Yang disebut asal/pokok/dasar Agama adalah ibadah mahdhah yang didasarkan oleh nash al-Qur'an dan Hadis yang qat'i. Dia berkategori Syari'ah, bukan fiqh. Kalau sebuah amalan didasarkan pada dalil yang ternyata dilalahnya (petunjuknya) bersifat zanni maka boleh jadi amalan tersebut akan berbeda satu dengan lainnya. Ini disebabkan zanni al-dalalah memang membuka peluang terjadinya perbedaan pendapat. Sementara kalau dilalah atau dalalahnya bersifat qat'i maka dia masuk kategori Syari'ah dan setiap hal yang menyimpang dari ketentuan ini dianggap bid'ah. Jadi, sebelum menuduh bid'ah terhadap amalan saudara kita, mari kita periksa dulu apakah ada larangan dari Nabi yang bersifat qat'i (tidak mengandung penafsiran atau takwil lain) terhadap amalan tersebut?"

"Jikalau tidak ada larangan, namun dia melanggar ma'lum minad din bid dharurah (ketentuan agama yang telah menjadi aksioma), maka dia jatuh pada bid'ah. Kalau tidak ada larangan, dan tidak ada ketentuan syari'at yang dilanggar, amalan tersebut statusnya mubah, bukannya bid'ah!"

"Contohnya pak Kiyai...."

"Baik, ini adalah contoh praktisnya: Apakah ada larangan memakai alat untuk berzikir (kita kenal dg tasbih atau rosario utk agama lain) ? Meskipun Nabi tidak pernah mencontohkannya, bukan berarti tidak boleh! Adalah benar dalam masalah ibadah berlaku kaidah, 'asal sesuatu dalam ibadah itu haram kecuali ada dalil yg membolehkan atau mewajibkan'. Nah, apakah memakai tasbih itu termasuk ibadah mahdhah atau tidak? Indikasinya adalah apakah zikir kita tetap sah kalau tidak pakai tasbih? tentu saja tetap sah, karena yang disebut ibadah adalah zikirnya, bukan cara menghitung 33 atau 99nya. Tasbih memang dipakai dalam zikir tetapi dia hanya masalah tekhnis. Seseorang bisa jatuh pada bid'ah kalau menganggap wajib hukumnya memakai tasbih untuk berzikir. Tetapi kalau memandang tasbih
hanya sebagai alat tekhnis saja, tentu tidakmasalah.

"Ini yang saya maksud dengan membedakan mana ibadah inti dan mana tekhnis ibadah; mana ibadah mahdah dan mana ibadah ghaira mahdhah." Contoh lain, haji itu wukuf di padang Arafah. Ini ketentuan Syari'ah; bukan fiqh. Kalau anda wukufnya di Mina, maka anda berbuat bid'ah."

"Contoh lain....Nabi menyuruh kita melihat bulan untuk berpuasa. Sekarang kita lihatnya pakai teropong? Apakah ini bid'ah? Fungsi teropong kan hanya membantu saja (tekhnis/alat bantu). Jadi, sama dg tasbih."

"Soal merayakan Maulid bagaimana?" tanya Mursalin.

"Sama saja...gunakan kriteria atau batasan yang saya jelaskan di atas.Anda bisa menilai sendiri. Pertama, adakah nash yang melarang atau menyuruh kita merayakan maulid Nabi?"

"Tidak ada" jawab jama'ah serempak.

"Apakah maulid nabi bagian dari ibadah inti atau ibadah mahdhah?

Apakah kita berdosa kalau meninggalkannya?"

"Tidak...." jama'ah menjawab lagi.

"Apakah hukumnya wajib menyelenggarakan maulid Nabi?"

"Tidak!!!"

"Bagus...anda sudah bisa menyimpulkan sendiri kan....Nah, contoh bid'ah yg nyata adalah menambah atau mengurangi jumlah rakaat dalam sholat. Karena ada perintah Nabi, "Shollu kama raytumuni ushalli"

"Bagaimana dengan masalah melafazkan niat atau ushalli dalam sholatustadz?" tanya pak Haji Ya'qub, seorang juragan ayam di desa itu.

"Yang diperintah itu adalah berniat. Di sini tidak ada perbedaan pendapat. Perbedaan mulai timbul: apakah niatnya itu kita lafazkan atau cukup dalam hati. Sama-sama tidak ada nash qat'i dalam hal ini, sehingga dia bukan masalah dasar atau pokok agama. Apalagi lafaz niatnya itu dibacanya sebelum takbiratul ihram. Sholat itu dimulai dari takbiratul ihram; apapun tindakan, ucapan atau pikiran anda
sebelum anda takbiratul ihram sholat anda tetap sah. karena sholat dihitung dari saat anda mengucapkan takbiratul ihram."

"Bukankah ada hadis yg menyebutkan bahwa ketika sholat nabi langsungmengucap Allahu Akbar, tanpa membaca ushalli." tanya pak Haji Ya'qubpenasaran.

"Benar...selama kita tidak menganggap bacaan ushalli itu wajib dibaca dan bagian dari sholat maka itu masuk kategori tekhnis ibadah. Lebih tepat lagi tekhnis berniat dalam sholat. Dalam hal Nabi langsung membaca takbir, berarti Nabi saat berniat sholat sudah mantap menyatukan antara ucapan, perbuatan, pikiran, motivasi dan kepasrahan. Lalu bagaimana dengan mereka yang perlu berkonsenstrasi memusatkan perhatiannya dg melafazkan niat? Saya memandang ini bukan bid'ah, Wa Allahu A'lam. Yang jelas melafazkan niat bukan bagian dari ibadah sholat; itu dilakukan SEBELUM takbir. Lha wong anda sebelum takbir aja gossip boleh kok...."

"Masak mau sholat nge-gossip dulu ustadz?" tanya Burhanuddin

"Maksud saya, contoh ekstremnya demikian. Nge-gossip sebelum takbir tidak akan membatalkan sholat anda. Lha wong sholatnya belum dimulai, kok sudah batal. Nah daripada antum pada nge-gossip kan lebih baik berkonsentrasi dg segala cara agar sholatnya khusyu'."

Tanpa terasa...waktu isya' telah tiba. Haji Yunus menutup dialog kali ini dengan menyatakan: "Apa yang saya sampaikan ini tentu belum sempurna dan belum memuaskanantum semua. Saya mohon ampun kepada Allah atas kekhilafan dan kekurangan saya. Semoga Allah senantiasa menunjuki kita ke jalan yang lurus."

ps. dialog di atas bersifat fiktif. Kesamaan nama ataupun lainnya hanya kebetulan semata.

Rabu, 10 Agustus 2011

Jangan Taqlid


Ba'da sholat zuhur berjamaah di masjid jami', Ujang merasa kehausan. Kakinya lantas melangkah ke warung Mpok Ruqayah. Ujang memesan es kelapa muda.

Pada saat yang bersamaan, seorang anak muda yang berjenggot tipis dan memakai celana cungkring (sekitar 10-15 senti di atas mata kaki) duduk disamping Ujang. Sambil tersenyum pada Ujang, anak muda yang bernama Jundi ini bertanya kepada Ujang, "Tadi malam akhi Ujang ikutan ratiban di kediaman Haji Yunus yah?"

"Iyah alhamdulillah saya ikutan bareng-bareng baca Ratib al-Haddad bersama Wak Haji", jawab Ujang sebelum menyeruput es kelapa muda.

"Apa akhi Ujang tahu apa dalilnya ikut ratiban semacam itu?" Jundi bertanya sambil tersenyum.

"wah itu sih urusan Wak Haji...kata beliau ratiban ini kumpulan doa yang tentu saja ada dalilnya. Lha dalilnya itu apa dan bagaimana yah...tolong aja kang Jundi tanya langsung sama Wak haji Yunus". Ujang nyerocos sambil tangannya mencomot pisang goreng di depannya.

"Itu namanya taqlid alias fanatisme buta. Agama melarang kita untuk taqlid semacam itu. Bukankah Pak Yunus itu manusia biasa yang bisa salah dan khilaf. Kok akhi Ujang mau saja ikut-ikutan sama beliau. Itu namanya menyembah Pak Yunus. Haram itu hukumnya!" suara Jundi mulai meninggi.

"wah...udara udah panas begini, kang Jundi kok malah bikin saya jadi gerah nih." Ujang mengipas-ngipaskan pecinya ke arah tubuhnya.

"bukan begitu akhi...saya sekedar mengingatkan saja. Rasulullah SAW telah bersabda, 'Aku tinggalkan dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh dengan keduanya, yaitu: Kitabullah dan Sunnahku'. Jadi segala persoalan harus berdasarkan kepada Qur'an dan Sunnah. Nggak boleh hanya kata kiyai anu atau ulama sana atau cuma kata Pak Yunus."

"bentar kang...." Ujang merubah posisi kakinya sambil kemudian mengangkat sedikit kain sarungnya. Ujang terus meneruskan, "Hadis yang tadi kang Ujang baca itu shahih atau dha'if?"

"Hadis-nya shahih ya akhi Ujang" jawab Jundi sambil memegang jenggotnya.

"O, ya? Akang tahu dari mana kalau itu hadisnya shahih?"

"Dari Syekh al-Albany. Beliau ini ulama besar...dalam kitab Silsilah Al-Hadits As-Shahihah, beliau bilang hadis ini shahih." Jundi lantas membuka catatannya. "Ya betul akhi...ini disebutkan dalam buku Syekh al-Albany juz 4, halaman 330"

Sambil membetulkan peci hitam yg sudah lusuh, Ujang bertanya lagi:

"sudah akang periksa argumennya al-Albany sampai beliau bilang hadis ini shahih? Misalnya dicek ulang gitu semua argumen beliau"

"Belum. Tapi Syekh al-Albany menyebutkan sumber-sumber rujukannya kok"

"Terus darimana akang bisa yakin kalau yang dilakukan Syekh al-Albany dalam mengatakan Hadis ini shahih itu benar?"

"Lho al-Albany kan ahli hadis, dia punya kualifikasi untuk itu,
masak dia bohong?" suara Jundi mulai meninggi. Dalam hatinya dia bilang, "ini orang kok ngeyel banget sih. Susah banget menerima sebuah kebenaran!"

"Ehmm...akang sudah taqlid dong sama Syekh al-Albany. Yang akang lakukan sama saja dengan kawan-kawan saya tadi malam yang mengikuti Wak Haji Yunus utk ratiban bareng tanpa mengkaji terlebih dahulu dalil dan argumen wak Haji Yunus. Kami melakukannya karena "percaya"
bahwa wak Haji Yunus itu ahli dalam bidangnya"

Sambil nyengir meniru gaya film james Bond yang ditontonnya saat layar tancep, Ujang meneruskan:

"Sama saja dengan saya kalau sakit pergi ke dokter. Apa yang dikatakan dokter saya percaya. Disuruh minum obat A atau B saya ikuti. Soalnya saya "percaya" akan otoritas dokter tsb. Saya nggak mau bilang begini, 'Maaf dokter, saya butuh waktu untuk menguji apakah obat yg anda kasih itu benar atau tidak, saya harus cek dulu argumentasi anda utk mengatakan penyakit saya ini A dan bukan penyakit B"

Muka Jundi langsung memerah. Dia tidak menyangka Ujang yang sarung dan pecinya sudah lusuh dan wajahnya ndeso banget itu dengan telak menohok argumentasi Jundi.

Mpok Ruqayah, yang dari tadi cuma mendengarkan sambil menggoreng pisang, tiba-tiba ikutan nimbrung.

"Perasaan ane hadis yang tadi bang Jundi bacakan ada versi lainnya deh. Dulu Wak haji Yunus udah pernah menjelaskan saat ane ikutan pengajian di rumahnya"

"Enggak ada Mpok...hadisnya ya cuma ini. kalau ada versi lain, ya itu dha'if" jawab Jundi sambil membolak-balik buku catatannya.

"ah urusan dha'if apa kagak itu sih urusan orang sekolahan...bukan urusan ane...urusan ane sih dagang aja" Mpok Ruqayah tertawa sambil membetulkan posisi sendal jepitnya.

"Iya nih akang masih doyan aja sembarangan mendha'ifkan hadis"

"Soalnya kata murabbi saya begitu akhi"

"Tuh kan...ente taqlid lagi" Ujang kembali nyengir.

"Bukan...ini bukan taqlid. Ini namanya tsiqah pada qiyadah"

"ya sama aja dong...intinya kan tunduk dan patuh serta percaya pada pemimpin dan panutan kita. Saya taqlid sama Wak haji Yunus. Akang Jundi tsiqah sama murabbi. Intinya kan sama aja. Artinya sama-sama baik. Karena Wak Haji Yunus orang baik, dan Murabbi akang juga orang baik. Begitu kang..."

Di saat itu datanglah Haji Yunus sambil mengucapkan salam. Ujang dan Mpok Ruqayah lantas menceritakan dialog dengan Jundi tersebut. Jundi yang duduknya menjadi gelisah, ditepuk-tepuk bahunya oleh Haji Yunus. "Bagus...bagus...inilah pemuda harapan kita. Selalu bersemangat dalam menjalankan Din Allah ini"

"Nak Jundi kuliah dimana? tanya Haji Yunus dengan lembut.

"Di Universitas Prabu Siliwangi, jurusan akunting. Saya lagi buat skripsi Pak Yunus"

"Oh bagus...bagus...apa saat menulis skripsi itu Nak Jundi mencantumkan footnote yang isinya pendapat para pakar dan juga mengikuti petunjuk yang diberikan oleh pembimbing skripsi?"

"Tentu saja Pak. Dunia akademik memang seperti itu"

"Mungkin Nak Jundi belum tahu, ttulah tradisi ilmiah dalam Islam yang diadopsi oleh dunia intelektual modern saat ini. Tradisi merefer dan merujuk itu bisa dilacak dalam khazanah Islam." Haji Yunus menjelaskan sambil memberi kode kepada Mpok Ruqayah utk membuatkan kopi.

"Wah jangan-jangan akang Jundi ini taqlid juga sama pembimbing dan para pakar yg dicantumkan dalam footnote skripsinya nih" Ujang nyeletuk sambil megang perutnya yang buncit.

Jundi tersenyum masam.

Haji Yunus melotot pada Ujang, tanda beliau kurang suka dengan Ujang yang menggoda Jundi. Lalu beliau menoleh kembali pada Jundi:

"Tadi hadis yang dibacakan oleh Nak Jundi itu bagaimana bunyinya dan bagaimana terjemahnya?" tanya Haji Yunus.

"Maaf Pak Yunus...saya hanya mencatat dari kumpulan materi pengajian. Kebetulan hadisnya ini sudah diterjemahkan."

Ujang nyeletuk lagi:

"itu namanya akang bukan kembali kepada al-Qur'an dan Sunnah...tapi kembali ke terjemahan al-Qur'an dan terjemahan Sunnah. Lha yang nerjemahin itu siapa? Kok akang percaya saja sama terjemahannya. Itu namanya akang taqlid sama terjemahan tersebut. Terjemahan Qur'an dan Hadis kan banyak macamnya. Cari aja di-google. Otong yang kawan saya aja bisa. Betul kan Wak Haji?"

Muka Jundi memerah kembali.

"Iya betul", kata Haji Yunus, "tapi kamu jangan biasakan memojokkan saudara sendiri seperti itu. Kita semua kan sama-sama belajar." tegur Haji Yunus.

"Maaf Wak Haji..." Ujang menundukkan pandangan matanya, sebagai tanda ia menerima teguran Haji Yunus. Lantas mata ujang melirik ke lantai. Tiba-tiba ia berseru panik.

"Lho Mpok Ruqayah...kok sendal saya hilang. Tadi kan masih di sini." Ujang celingukan mencari sendal jepitnya.

"wah jangan-jangan sendal jepit saya hilang akibat adanya konspirasi Yahudi dan CIA untuk mencuri harta ummat Islam nih...." Ujang nyerocos sambil garuk-garuk kepala.

Mpok Ruqayah langsung nyengir...."masak Yahudi sama CIA ngurusin sendal jepit kamu yang jelek itu...Ujang...ujang...ada-ada aja sih!"

Haji Yunus pura-pura tidak mendengar dan memilih untuk menikmati kopinya. Jundi masih tersenyum kecut sambil melirik catatan pengajian yang berjudul, "ghazwul fikri antara yahudi-barat versus ummat Islam"